Langsung ke konten utama

Jakarta Punya Cerita Bagian 5

 


Kami berdua belas kini sedang berada di ujung waktu bertempat tinggal di Jakarta. Sesaat lagi, kami ditugaskan ke berbagai macam penjuru nusantara. Ada yang di Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Aku adalah orang yang pertama kali berangkat ke tempat tugas di antara mereka semua. Pesawat yang akan aku naiki, berangkat dini hari dari bandara Soekarno Hatta menuju Ambon. Sedangkan, pesawat mereka kebanyakkan berangkat pada pagi atau siang harinya.

Beruntungnya aku, jadwal pesawatku yang berangkat pertama, membuatku dapat bertemu mereka sesaat sebelum aku berangkat ke bandara. Mereka mengantarku dari restoran makanan cepat saji di Jakarta Timur. Aku tertawa-tawa saat datang dan saat berbincang-bincang dengan mereka semua. Setelah beberapa waktu berselang, akhirnya tiba saatku untuk meninggalkan tempat ini. Aku bersalaman dan berpelukan dengan mereka untuk saling mengucapkan kalimat perpisahan.

“Sehat-sehat ya, semoga bisa bertemu di lain kesempatan. Terimakasih sudah mengantarkanku sampi disini” kataku.

Aku masuk mobil taksi yang sebelumnya sudah kupesan. Setelah menutup pintu, aku melambaikan tangan di jendela mobil itu sambil tersenyum. Mereka pun membalas lambaian tanganku seiring jarak kami semakin jauh hingga bayangan mereka tertutup oleh kendaraan-kendaraan di belakang taksi yang aku naiki. Lalu, aku hanya menyenderkan kepalaku di kaca pintu mobil itu. Tak terasa aku menitikkan air mata karena aku merasa tidak akan ada waktu lagi dimana kami bisa bertemu kembali seperti sebelum-sebelumnya. Entah, aku sedang sedih karena itu, atau aku sedang gembira karena sempat bertemu dan melalui banyak waktu bersama mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Victoria Concordia Crescit

  Pada salah satu malam minggu saat aku masih SD, Aku dan teman-temanku menonton siaran langsung pertandingan sepakbola di salah satu rumah temanku. Waktu itu, tim yang sedang berlaga adalah Manchester United melawan Arsenal di Stadion Old Trafford, kandangnya Manchester United dalam perhelatan liga premier Inggri musim 2011/2012. Kebanyakan teman-temanku saat itu adalah pendukung MU, sedangkan Aku adalah satu-satunya penggemar klub Arsenal di ruangan itu. Malam itu, Manchester United mendominasi jalannya permainan. Teman-temanku sangat bersemangat berekspresi ketika Wayne Rooney CS menggempur pertahanan meriam London. Walaupun sendirian, Aku pun tidak kalah semangat saat serangan MU dapat dimentahkan oleh lini belakang Arsenal. Pertandingan babak pertama selesai dengan hasil imbang, 1 – 1. Babak kedua, setan jelek berwarna merah semakin beringas mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. MU yang sedang bertanding di rumah sendiri, sangat berapi-api di bawah sorakan pendukungnya. Singka...

Berkah Ramadhan

  Ramadhan kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku menjalaninya dengan sedikit orang dekat yang berada di sekitarku, atau malah bisa dibilang tidak ada. Berbeda dengan waktu sebelum bekerja atau masih tinggal di kampung halaman, ketika masih ada keluarga atau teman-teman yang saling membantu misalnya untuk bangun sahur, menemani berbuka, bahkan bersama-sama iktikaf di 10 hari terakhir bulan ini. Tahun ini, akan menjadi tahun keduaku untuk menikmati bulan berkah ini seorang diri. Jalan - jalan arteri kota Ambon cukup sering mengalami kemacetan, apalagi ketika datang jam-jam berangkat kantor atau pulang kantor. Sore ini, kemacetan yang biasa terjadi ditambah pemandangan banyak pedagang berjejeran di tepi jalan menjual makanan berbuka. Mereka ramai dikerumuni oleh para pembeli yang sedang berburu makanan apa yang hendak disajikan dan dinikmati untuk berbuka di rumah. Kulihat para penjual kebanyakkan adalah ibu ibu yang sibuk melayani pelanggannya. Aku sedikit tertaw...

Wisata Mengunjungi Rumah

  Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan larangan untuk mudik di saat lebaran tahun ini. Alasan pemerintah ya sudah pasti karena untuk menekan arus mobilitas masyarakat untuk menghindari penularan virus COVID-19 semakin parah. Tahun ini adalah tahun kedua kebijakan ini kembali diambil. Tahun lalu, masyarakat juga dihimbau tidak mudik ketika lebaran datang. Walaupun demikian, banyak sekali masyarakat yang tetap bepergian ke kampung halaman atau ke sanak saudara dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri. Tahun ini, kebijakan larangan mudik kurasa tidak sejalan dengan kebijakan tetap membuka tempat pariwisata. Menteri Pariwisata berdalih bahwa kebijakan ini adalah semata-mata untuk menyelamatkan sektor pariwisata yang lumpuh total semenjak pandemi ini menyerang. Keinginan pak Menteri bisa dipahami, karena maksud beliau adalah membuka ekonomi masyarakat yang lumpuh beserta penegakan protokol kesehatan yang harus diakomodasi oleh pemilik tempat wisata. Sebenarnya, aku bisa men...