Langsung ke konten utama

Restart



Pernah gak merasa hidup sudah terlalu terlambat untuk berubah? Ketika lingkungan di sekitarmu sudah mengenalmu sebagai seseorang yang memiliki kepribadian sedemikian rupa, misalnya seseorang yang baik, pintar, dewasa atau seseorang yang usil, nakal, diremehkan dan sebagainya. Kalau image yang menempel itu adalah yang baik-baik, syukur alhamdulillah, tetapi kalau sebaliknya?

Masa-masa sekolahku, mulai dari TK hingga SMA, aku adalah seseorang yang pendiam, tidak percaya diri, dan sering kali tidak didengar pendapatnya. Bahkan, sering kali aku diejek oleh beberapa temanku karena mereka tahu kalau aku akan diam saja dan tidak membalasnya. Sedih memang, tapi setiap kali aku mencoba untuk berubah, aku selalu gagal dan akhirnya kembali ke kondisi sebelumnya. Saat itu, aku sudah menyerah dan merasa aku bakal hidup sebagai orang yang seperti ini terus jika tinggal di lingkungan yang sama. Jika diibaratkan dengan video games, aku harus merestart gamenya sehingga aku menjadi orang yang sama sekali belum dikenal oleh orang-orang, dan ingin membuat image yang baru.

Keinginanku ternyata dibalas oleh Allah setelah lulus SMA. Aku melanjutkan pendidikanku ke kota dimana tidak ada orang yang mengenalku sebelumnya. Teman-temanku lebih banyak diterima di kampus-kampus Jawa Timur atau Jogja. Ada sih, beberapa temanku yang ikut bersamaku kuliah di Jakarta, namun secara keseluruhan mereka bukan teman yang pernah satu kelas denganku. Inilah saat-saat yang aku tunggu, dimana aku ingin membangun citra diriku tidak seperti sebelumnya. Games sudah direstart, saatnya memulai petualangan baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Victoria Concordia Crescit

  Pada salah satu malam minggu saat aku masih SD, Aku dan teman-temanku menonton siaran langsung pertandingan sepakbola di salah satu rumah temanku. Waktu itu, tim yang sedang berlaga adalah Manchester United melawan Arsenal di Stadion Old Trafford, kandangnya Manchester United dalam perhelatan liga premier Inggri musim 2011/2012. Kebanyakan teman-temanku saat itu adalah pendukung MU, sedangkan Aku adalah satu-satunya penggemar klub Arsenal di ruangan itu. Malam itu, Manchester United mendominasi jalannya permainan. Teman-temanku sangat bersemangat berekspresi ketika Wayne Rooney CS menggempur pertahanan meriam London. Walaupun sendirian, Aku pun tidak kalah semangat saat serangan MU dapat dimentahkan oleh lini belakang Arsenal. Pertandingan babak pertama selesai dengan hasil imbang, 1 – 1. Babak kedua, setan jelek berwarna merah semakin beringas mengobrak-abrik pertahanan Arsenal. MU yang sedang bertanding di rumah sendiri, sangat berapi-api di bawah sorakan pendukungnya. Singka...

Wisata Mengunjungi Rumah

  Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan larangan untuk mudik di saat lebaran tahun ini. Alasan pemerintah ya sudah pasti karena untuk menekan arus mobilitas masyarakat untuk menghindari penularan virus COVID-19 semakin parah. Tahun ini adalah tahun kedua kebijakan ini kembali diambil. Tahun lalu, masyarakat juga dihimbau tidak mudik ketika lebaran datang. Walaupun demikian, banyak sekali masyarakat yang tetap bepergian ke kampung halaman atau ke sanak saudara dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri. Tahun ini, kebijakan larangan mudik kurasa tidak sejalan dengan kebijakan tetap membuka tempat pariwisata. Menteri Pariwisata berdalih bahwa kebijakan ini adalah semata-mata untuk menyelamatkan sektor pariwisata yang lumpuh total semenjak pandemi ini menyerang. Keinginan pak Menteri bisa dipahami, karena maksud beliau adalah membuka ekonomi masyarakat yang lumpuh beserta penegakan protokol kesehatan yang harus diakomodasi oleh pemilik tempat wisata. Sebenarnya, aku bisa men...

Modal Awal

  Sering kali aku diperlakukan berlebihan oleh Ibu. Aku dilarang bermain terlalu jauh, terlalu lama, atau dilarang melakukan aktivitas fisik yang sekiranya dapat membahayakanku. Memang wajar sih, seorang Ibu pasti akan perhatian kepada anak semata wayangnya, kalau kenapa-kenapa, tidak ada gantinya begitu. Untungnya aku memiliki Bapak yang memiliki sudut pandang seratus delapan puluh derajat terhadap anaknya. Menurut Bapak, seorang laki-laki harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan yang luas. Sehingga, Bapak justru mendorongku untuk bermain yang jauh, berteman ke semua orang, atau lakukan apa yang aku suka, selama tidak mencuri dan tidak berkelahi. Ya, itulah pesan Bapak setiap kali aku izin kemanapun aku pergi. Diizinkan kuliah di Jakarta, adalah salah satu hal yang aku dapat dari Bapak. Sudah jelas bagaimana perasaan Ibu, Beliau tanpa henti-hentinya resah setiap malam memikirkan bagaimana keadaanku di Jakarta. Hal itu berlangsung hingga 3 bulan, sampai-sampai Tanteku ser...