Langsung ke konten utama

Postingan

Imitasi

  Kakekku yang berasal dari ayah, ayahnya ayahku, pernah berpesan sesuatu kepadaku. “Le, lak golek konco iku sing apik apik ya. Ojo gelem kekancan mbek cah-cah nakal” (Nak, kalau cari teman itu yang baik-baik ya. Jangan mau berteman dengan anak-anak nakal) Kakek menjelaskan lagi kalau teman yang nakal, akan mempengaruhiku untuk ikut-ikutan berbuat nakal juga. Kakek berpesan kalau mau berteman harus pilih-pilih. Memilih teman-teman yang baik akan juga membuat kita berperilaku baik. Anak kecil adalah peniru yang ulung. Ketika lingkungan tumbuh kembangnya bersama teman-teman yang baik, maka ia akan menjadi orang yang baik. Sebaliknya, apabila ia tumbuh di lingkungan yang tidak baik, hampir pasti ia akan mencontoh hal tidak baik tersebut dan menjadikannya seseorang yang tidak baik pula. Aku merasa beruntung ketika pergaulanku adalah bersama teman-teman yang sering mengaji dan tidak pernah berbuat yang aneh-aneh. Setelah dipikir-pikir, lingkungan yang baik itu adalah pilihan o...

Roti Gulung Part 2

  Roti yang kupegang tidak terasa sudah habis, aku ingin memakan selai stroberi yang kusisihkan untuk kunikmati paling akhir. Sayangnya, aku hanya melihat kertas roti kosong yang tadinya selai stroberiku berada diatasnya. Aku menoleh ke arah ibu dan bertanya kemana selai stroberiku menghilang. Ibuku pun menjawab kalau selai stroberinya sudah habis beliau makan. Aku kaget dan marah mendengarnya. Aku pun kesal dan masuk ke dalam kamar dan menangis sambil memeluk guling. Ibu menyusulku ke kamar. Ibu yang selalu memanjakanku, sangat merasa bersalah ketika mengetahui telah menyakiti hatiku. Beberapa kali ibu menenangkan emosiku dengan merayu-rayu dan menjanjikan roti gulung yang sama di keesokan hari. Aku tidak bisa menerima tawaran itu, Bagiku, selai stroberi yang tadi kusisihkan tidak dapat tergantikan walaupun satu kardus roti gulung stroberi lainnya. Gagal mendapatkan hatiku, Ibu akhirnya meninggalkanku yang kemudian lelap tertidur. Selama dua hari setelah malam itu, aku tidak p...

Tempat Berkeluh Kesah

  Beberapa waktu lalu, adik-adik tingatku mengeluh terhadap ketidakjelasan keputusan terhadap masa depan mereka. Saat itu, mereka menunggu kepastian kapan mereka akan diangkat dan dipekerjakan menjadi abdi negara. Latar belakang mayoritas dari mereka adalah alasan ekonomi. Pandemi ini berdampak parah terhadap keadaan ekonomi masyarakat, termasuk keluarga mereka. Mereka yang sudah berharap bisa membantu ekonomi keluarga dengan bekerja, malah digantung tanpa kejelasan. Di waktu yang hampir bersamaan, aku dan teman-temanku yang tahun lalu sudah diangkat menjadi ASN, juga mengeluh. Bedanya, kami mengeluh terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan terlalu banyak jumlahnya. Selain itu, beberapa pekerjaan tersebut telah mendekati batas terakhir pekerjaan itu harus selesai. Sehingga kami banyak menghabiskan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal lain. Work-life balance yang ideal, itu semua hanya khayalan belaka. Ah, andai saja aku dan teman-temanku melihat keadaan adik-adi...

Roti Gulung Part 1

  Aku adalah anak tunggal yang hidup di keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai satpam sekolah, dan ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun begitu, semua keinginanku selalu bisa dipenuhi oleh kedua orang tuaku. Aku tidak pernah kecewa atas kasih sayang yang mereka lakukan kepadaku. Aku tidak mengingat hal apa yang tidak mampu dipenuhi oleh orang tuaku, hingga suatu saat aku teringat ada satu hal yang pernah mengecewakanku di saat aku kecil. Aku bertempat tinggal di lingkungan masyarakat yang rukun dan gotong royong di salah satu kota kecil di Jawa Timur, Blitar. Warga kampungku kerap mengadakan syukuran ketika mereka mengadakan hajat misalnya nikahan, khitanan, ulang tahun, atau doa-doa ketika terkena musibah seperti kematian. Selain itu, ada juga acara doa rutinan yang dilakukan setiap minggu yakni membaca Al-Quran dan tahlil. Suatu malam, ada tetanggaku yang mengadakan acara doa bersama. Aku lupa acara tersebut diadakan dalam rangka apa. Aku masih terlalu kec...

Jakarta Punya Cerita Bagian 4

  Sejak kecil, Aku tinggal dan besar di lingkungan mayoritas berwarga Nadhatul Ulama atau NU. Kecuali ayahku, dia adalah pengikut Muhammadiyah. Kami sekeluarga tinggal dengan masyarakat NU yang memiliki kebiasaan-kebiasaan seperti tahlilan, yasinan dan lain sebagainya. Seperti kita tahu, kadang-kadang hari raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dan Pemerintah memiliki perbedaan. Jadi, pernah ada saat ketika satu kampung masih berpuasa, sedangkan kami berangkat sholat Idul Fitri. Walaupun begitu, ayahku tetap ikut acara tahlilan atau yasinan yang biasanya diadakan rutin seminggu sekali. Kata ayahku, selain menjaga kerukunan, selama masih mengaji Al Qur’an, beliau tidak terlalu mengambil pusing untuk mendebatkannya. Di Jakarta, terdapat kajian-kajian yang mirip dengan apa yang diajarkan di kampung halamanku. Jama’ah kajian ini adalah mayoritas juga warga NU. Kajian-kajian yang aku ikuti atas saran kakak tingkatku, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kajian yang ada di masjid ...